BAGAI PERMATA YANG HILANG

Artikel

BAGAI PERMATA YANG HILANG
(Sebuah catatan dipenghujung tahun pelajaran 2020/2021)
Oleh : Ahmad Zainul Arifin

 

“Pak berarti besok libur lagi ?” tanya seorang siswi.
“Ya Nak. Belajar dari rumah. ” Jawab guru.
“Kenapa to Pak ?” lanjut Sang siswi setengah protes
“Antisipasi penyebaran virus Corona.” Jawab Sang guru.
“Ya Pak.” Balas siswi tersebut mengakhiri chatnya.

Dialog diatas adalah chatting sorang siswi kepada salah seorang guru melalui whatsapp, setelah Kepala Madrasah menshare edaran perpanjangan pembelajaran online / daring untuk dua pekan kedepan. Saat itu chatting tersebut terasa cukup menyentuh hati sang Guru. Rupanya pembelajaran yang berlangsung selama ini (daring / online) mulai menimbulkan kejenuhan dikalangan anak-anak, juga kerinduan mereka pada pembelajaran di sekolah, pembelajaran yang berlangsung secara tatap muka, dimana mereka bisa berinteraksi langsung dengan Bapak / Ibu Gurunya, bercengkerama dan bermain dengan teman-temannya. Kerinduan itu juga dirasa oleh Sang Guru, rindu akan sikap muridnya yang beraneka ragam, dari anak-anak yang selalu awal dalam menyelesikan tugas, anak yang teramat rajin membersihkan papan tulis, anak yang suka melaporkan kondisi teman-teman atau kelas kepada Wali Kelas saat jam isitirahat, sampai anakanak yang suka usil pada teman-temannya, maupun sikap anak-anak dengan kenakalan-kenakalan khas mereka.

Keunikan-keunikan tersebut menyadarkan dan mengingatkan pada pemahaman bahwapengajaran itu berbeda dengan pendidikan. Dalam Didaktik Asas-asas Mengajar, S. Nasution mendefinisikan mengajar adalah menanamkan pengetahuan. Dari sini diketahui bahwa tujuan mengajar adalah penguasaan pengetahuan oleh anak. Nampak bahwa pengajaran bersifat intelektualistik, karena menekankan pada segi pengetahuan. Sering ilmu pengetahuan diambil dari buku pelajaran yang kadang tidak dihubungkan dengan realita kehidupan sehari-hari.

Pada kondisi normal mungkin hal ini (pengajaran) bisa terlaksana secara maksimal, tetapi di era pandemi rasanya ketercapaiannya secara umum jauh panggang dari api. Memang pembelajaran tetap bisa dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, namun ketersediaan jaringan, signal, paket data sering menjadi problem tersendiri. Kondisi seperti ini mungkin tidak terjadi bagi sekolah/madrasah tertentu, yang berlokasi diperkotaan, dengan tingkat ekonomi orang tua/ wali murid menengah keatas, yang memiliki kepedulian lebih pada pendidikan putera/puterinya. Namun bukankah sekolah/madrasah lebih banyak berada di daerah pinggiran kota, pedesaan, yang kadang kondisi jaringan dan signal kurang mendukung, dengan tingkat ekonomi orang tua menengah kebawah, yang sebagiannya merasa berat untuk memenuhi kebutuhan pulsa/paket data, belum lagi kepedulian pada belajar anak relatif lebih rendah. Pembelajaran daring / online telah menimbulkan kejenuhan bagi guru dan siswa, bahkan terasa memberatkan orang tua siswa. Tak sedikit orang tua mengeluh karena tak mampu menghadirkan pembelajaran seperti guru di sekolah / madrasah bagi putera / puteri mereka. Terlihat jelas mereka telah merindukan pembelajaran tatap muka, didalamnya terdapat dinamika inetraksi yang berwarna, dimana pendidikan karakter bisa terjadi secara apa adanya. Disini tertangkap makna bahwa pendidikan lebih luas jangakauannya dan lebih dalam maknanya dari pada pengajaran.

Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Demikian Ahmad D.Marimba dalam Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Dari kata “Bimbingan” tersirat adanya dua subyek yang berhubungan dalam mencapai tujuan pendidikan, terjadinya proses yang dilakukan secara sadar dan terencana. Proses berjalan bersama menuju kedewasaan jasmaniah dan rohaniah hingga terbentuk kepribadian utama. Disini nampak jelas aspek spiritual yang terkandung dalam usaha pendidikan.

Mencermati pandangan diatas dapatlah dimengerti bahwa pengajaran orientasinya lebih tertuju pada pemenuhan kebutuhan otak (head), sedangkan pendidikan tidak hanya tertuju pada otak saja melainkan juga pada hati (heart). Pada pembelajaran daring /online yang terjadi lebih dominan proses pengajaran sementara proses pendidikan kurang tersentuh. Penguasaan materi atau ketuntasan pembelajaran bisa tercapai, meskipun kurang maksimal. Sementara pembentukan karakter tidak mendapat perhatian dan porsi secukupnya. Pendidikan benar-benar kehilangan esensinya. Rasanya tidak cukup mengajarkan anak-anak kita, generasi kita hanya mengarah pada kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan akademik semata, yang menurut Ary Ginanjar Agustian hanya 10 – 20% dalam mempengaruhi keberhasilan seseorang. Kecerdasan intelektual perlu diiringi dengan kecerdasan emosional (Emotional Quotient) sehingga anak-anak memiliki kemampuan merasa (what do I feel). Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) supaya ank-anak mampu untuk mendengar nurani, faham jati diri, dan fitrah yang terdalam (who am I). Hal demikian tentu sulit terwujud bila pembelajaran dilakukan hanya secara daring / online. Hal demikian mengingatkan kita pada sebuah iklan televisi “Teknologi Tak Mampu Menggantikan Kasih Sayang.” Disinilah terasa perlunya sentuhan dan porsispiritual yang cukup pada anak, internalisasi nilai-nilai religi dalam membentuk karakter mereka.

Persoalan lain dialami pada siswa kelas I pada Tingkat Dasar, kelas VII SLTP dan kelas X SLTA, yang tidak memperoleh gambaran komplit sistem dan pola belajar di lingkungan belajarnya yang baru yang sudah barang tentu berbeda dengan sebelumnya, belum terbangun pula interelasi yang memadai diantara teman-teman baru dan guru-gurunya. Demikian pula kelas akhir pada masing-masing tingkat / jenjang pendidikan, yang seharusnya mendapatkan nutrisi sempurna pada kognisi, afeksi dan psikomotorik mereka, sebagai penyempurna konsumsi dan bekal mereka melanjutkan studi pada jenjang berikutnya.

Memang diakui, pandemi Covid-19 menuntut guru lebih intens melakukan dan menemukan berbagai inovasi dalam pembelajaran memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Guru menjadi lebih kaya dalam penerapan metode dan penggunaan media pembelajaran. Dan untuk ini tentu membutuhkan persiapan lebih dari guru, walaupun diketahui tidaklah sama kemampuan setiap guru dalam penguasaan IT. Adanya bantuan pemerintah serta beberapa provider sedikit meringankan beban orang tua dalam menyediakan paket data untuk pembelajaran putra putrinya, meskipun persoalan jaringan internet masih menjadi kendala dibeberapa wilayah.

Dengan senantiasa berharap bimbingan, petunjuk dan kekuatan dari Allah Swt, semoga pandemi covid-19 segera berakhir, anak-anak sebagai aset bangsa terselamatkan, pendidikan hadir sesuai esensinya, sebagai investasi dan pilar suatu bangsa bisa berdiri kokoh mengantarkan generasi muda pada perkembangan jasmani dan rohani yang seimbang, yang memiliki jati diri. Pilar bangsa yang dapat membentengi anak-anak dari pemikiran yang jauh dan tidak sejalan dengan ajaran serta nilai-nilai religi, serta membentengi dari perilaku dan budaya yang jauh dan bertentangan dengan dasar serta falsafah bangsa Indonesia. Hingga lahirlah generasi muda yang mampu menentukan arah, tujuan dan masa depan bangsa dan negaranya, menuju baldatun toyibatun warobbun ghafur.

Aza,19/06/2021
Aza,19/06/2021
79
Share this :