Mendidik Karakter dengan Sastra

Opini

Oleh : Ahmad Syauqi Fuady, M.Pd.I (Ketua LPM STIT Mubo)

OPINI | stitmubo.ac.id, Langit pendidikan negeri kita kurun waktu dasawarsa terakhir ramai memperbincangkan tentang pendidikan karakter. Bahwa karakter menjadi “tersangka” atas segala kemerosotan kehidupan di negeri ini. Pendidikan yang ada dinilai belum mampu mewujudkan sosok manusia yang memiliki keunggulan karakter, akhlak, adab, dan moral. Pengarusutamaan karakter dalam pendidikan kembali menjadi concern banyak pihak. Pendidikan dinilai berpisah jalan dengan karakter.

Padahal, menurut Thomas Lickona, penulis Educating for Character, “pendidikan karakter” berusia sama dengan “pendidikan” itu sendiri. Pendidikan adalah karakter itu sendiri. Sejak awal mula, karakter adalah bagian inheren dari pendidikan. Pendidikan bertujuan membentuk karakter; karakter adalah esensi utama pendidikan. Sesuatu tidaklah dianggap sebagai pendidikan jika mengalienasikan karakter ke tepian.

Sastra Kepahlawanan

Yudi Latif dalam bukunya Menyemai Karakter Bangsa menjelaskan pengalaman menarik terkait implementasi pendidikan karakter dari beberapa negara. Pengajaran sastra, apresiasi terhdap karya sastra menjadi bagian penting dalam penanaman karakter pelajar. “Di beberapa negara,” tulis Yudi Latif, “pendidikan karakter seringkali diajarkan lewat perantara kesusastraan dengan berpusat pada keteladanan para pahlawannya. Di Inggris, puisi-puisi Shakespeare menjadi bacaan wajib untuk menanamkan tradisi etik dan kebudayaan masyarakat. Di Swedia, aneka spanduk dibentangkan di hari raya berisi kutipan dari karya kesusastraan. Di Prancis, sastrawan-sastrawan agung menghuni pantheon.”

Kita tarik lebih jauh, Bangsa Arab memiliki tempat khusus untuk mendeklamasikan karya sastra baik berupa puisi, syair, di Pasar Ukaz. Seseorang dikenal sebagai seorang terpelajar atau cendekiawan jika mampu menciptakan karya sastra yang indah. Kontestasi karya sastra mendapat temat terhormat di kalangan Bangsa Arab. Salah satu sahabat yang kesohor saat itu adalah Umar ibn Khattab. “Ajarkan anak-anakmu sastra,” tegas sahabat Umar, “agar mereka berani melawan ketidak-adilan; agar mereka berani menegakkan keberanian; agar jiwa-jiwa mereka hidup; sastra akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani.”

Baca Juga :  Refleksi Hari Kartini : "Tersenyum Atau Menangiskah"

Kata-kata yang tersusun indah dan bertenaga mampu mendorong bangkitnya potensi karakter positif. Lewat sastra nilai-nilai berupa heroisme, kejujuran, pengorbanan, dan sifat-sifat luhur lainnya dapat diajarkan lewat balutan cerita yang disusun indah. Medium sastra dapat menjembati kisah kepahlawanan dan keteladanan masa kemudian dikontekstualisasikan sebagai sumber keteladanan dan kearifan masa sekarang ini. Lebih jauh sastra dapat menstimulus kepekaan jiwa pembacanya dalam menyelami aneka sifat, kepribadian, dan karakter tokoh-tokoh yang diceriterakan. Sastra yang luhur dan agung akan melembutkan hati, membangkitkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, memantik munculnya nilai-nilai etis dan estetis diri, dan menggugah keberanian.

Kondisi Indonesia

Bagaimana kondisi di Indonesia? Perlu ada perhatian serius untuk menjadikan sastra sebagai medium untuk mengajarkan nilai-nilai karakter bagi peserta didik. Pengajaran sastra di Indonesia kalah mentereng dan beken dibandingkan pelajaran sains, komputer, dan ekonomi. Pengajaran sastra di sekolah-sekolah di Indonesia mengalami kemerosotan luar biasa.

Tentang kemerosotan pengajaran sastra sekaligus minat baca para siswa di Indonesia, penyair ternama Taufiq Ismail pernah mengutarakan kegelisahannya sebagai berikut ini: “Sebelum Indonesia Merdeka, pengajaran sastra di sekolah-sekolah kita sudah sedemikian baiknya. Yaitu, masa ketika siswa-siswa Algemeene Middelbare School (AMS) membaca sedikitnya 25 buku selama mereka belajar di bangku sekolah setingkat SMA itu, dalam 4 bahasa pula. Mutu bacaan mereka itu kurang-lebih sama dengan mutu bacaan siswa-siswi SMA di berbagai negara maju di Amerika dan Eropa hari ini. Inilah sejarah yang alpa dan mencengangkan: sejak 60 tahun lebih silam, siswa-siswa SMA kita hanya membaca 0 buku sastra, tentu dengan sedikit sekali pengecualian.”

Generasi pendiri republik ini lahir dari sistem pendidikan seperti digambarkan oleh Taufiq Ismail di atas. Di usia muda, dengan bekal kemampuan bahasa mumpuni, mereka secara aktif menyelami kepustakaan populer dan kesohor dari karya-karya berkualitas dari para penulis dunia. Hasilnya, generasi mereka tidak hanya terdidik akalnya, namun juga tercerahkan jiwa serta karakternya. Betapa tidak, dengan status pendidikan yang dimiliki, jika menghendaki, mereka akan dengan mudah memperoleh jabatan mentereng dengan gaji tinggi. Namun, mereka memilih jalan hidup untuk memerdekakan bangsanya meski harus hidup dalam keterbatasan, dipenjara, dan diasingkan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Baca Juga :  Ada apa dengan puasa ?..

Upaya Kini

Apresiasi terhadap sastra tidaklah berdiri sendiri. Melainkan harus bersamaan dengan tumbuhnya minat baca. Tanpa dilekati dengan kegemaran membaca mustahil apresiasi terhadap sastra akan tumbuh. Lagi-lagi, kita tengok para pendiri Republik ini. Mohammad Natsir mengisahkan bahwa ketika ia sekolah SMA di Bandung, untuk setiap mata pelajaran, para siswa diwajibkan membaca minimal 36 judul buku. Kini hal seperti ini sulit kita jumpai di kalangan pelajar. Kini membaca buku kalah jika dibandingkan dengan aktivitas di media sosial. Cita-cita menghasilkan lulusan pendidikan sebagai manusia-manusia berkarakter dapat diikhtiarkan dengan meningkatkan apresiasi pelajar terhadap sastra. Upaya ini berjalin kelindan dengan meningkatkan minat baca pelajar. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain: pertama, menyediakan buku-buku sastra berkualitas yang mudah diakses. Kedua, penekanan untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan ‘wajib’. Ketiga, pengorganisasian seluruh elemen masyarakat untuk menggerakkan budaya literasi. Keempat, memberi insentif bagi pihak-pihak yang berprestasi dalam menggerakkan gerakan literasi.

170
Share this :